Kumpulan Widget Animasi

Sabtu, 27 Juni 2015

Bill Gates menghabiskan 5,2 triliun untuk temukan obat AIDS

hay .. I would like to share about some story from the rich man in the word ... I hope you can be happy ..
so enjoy my story ..



Selepas pensiun dari Microsoft, Bill Gates aktif di berbagai kegiatan amal. Salah satunya adalah dalam program riset untuk mencari obat AIDS.

Lewat Bill and Melinda Gates Foundation, sang pendiri raksasa teknologi Microsoft itu menghabiskan USD 400 juta atau sekitar Rp 5,2 triliun (USD 1 = Rp 13.000) setiap tahunnya untuk penelitian dari penyakit yang belum ditemukan obatnya tersebut.

Gates pun berharap, vaksin untuk memerangi virus HIV yang menyebabkan AIDS dapat ditemukan dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan.

"Sepertinya prioritas utama saat ini adalah vaksin. Jika kita sudah menemukan vaksin yang dapat melindungi orang-orang, maka kita dapat menghentikan epidemik dari penyakit tersebut (AIDS-red.)," ujar salah satu orang terkaya di dunia tersebut, seperti dilansir Business Insider.

Sejak tahun 1981, sekitar 78 juta orang telah terinfeksi oleh virus HIV. Virus ini merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh sampai sistem kekebalan tubuh tidak bisa lagi melawan infeksi lain yang biasanya akan mampu mencegah.

"Penemuan vaksin, inilah fokus area yang tengah dituju dari penelitian yang kami lakukan. Tetapi mungkin hasil terbaiknya baru bisa didapat lima tahun lagi, atau mungkin saja sampai 10 tahun," kata Gates.

"Namun bakal banyak orang yang akan terus terinfeksi virus ini, jadi kita harus tetap fokus dan melakukannya dengan lebih efisien," tandasnya

Rabu, 25 Februari 2015

CENDRAWASIH :THE BEAUTIFUL BIRDS OF PARADISE

hey guys .. I would like to show you about the beautifull birds from Indonesian .. lets check it out .. !
Papua is the natural home of the beautifully colored Birds of Paradise widely admired for their exotic plumage. In Indonesia these rare birds are called Cendrawasih, the Indonesian name for the Paradisaeidae bird family, considered the most beautiful birds on the planet.

Best place to have an opportunity get close these Birds of Paradise are in the village of Sawinggrai in the Raja Ampat island chain off the coast of West Papua.

These rare and exotic birds are best known for their extravagantly colorful coat, elongated tail feathers and decorative plumage. The family consists of nearly 40 species, the majority of which are endemic to the island of New Guinea and a few of its smaller surrounding islands, though a small number of species can also be found in the Moluccas and Eastern Australia.

Birds of Paradise are generally crow-shaped, and vary in size from about  15cm to 110cm in length. Male Birds of Paradise boast a striking combination of colorful feathers of every imaginable design; from tall, fanning plumage atop their heads, to long, trailing tail feathers behind. Some parts of the bird are patches of bald skin with no feathers, yet still splashed with shockingly vivid colors. The male Bird of Paradise uses its outrageously gaudy appearance to attract and court the female of its choice, and many will perform a “courtship dance” which involves fluffing out their feathers, displaying them in their full splendor.Females, on the other hand, are for the most part brown and dull-colored, with smaller or no ornamental plumes, helping them to maintain camouflage when caring for their young.  Most birds of paradise live in tropical forests and swamps, with a few species recorded inhabiting mangrove forests.



Because of the Birds’ unique and stunning colors, they have for centuries been hunted, their feathers used for decoration and supposed mystical powers. There was once a myth that the birds had come from the gods and never touched the earth, and this myth only served to accentuate the value of the birds until their feathers were in such demand that the species nearly reached extinction. Birds of Paradise are currently listed as endangered species, but this has not stopped the illegal trade and export of the birds on the black market.


The Lesser Bird of Paradise, (Paradisaea minor,) is perhaps one of the best known among the many species of Birds of Paradise. Its body has a coat of reddish-brown, and crowned with a head of bright yellow. Male birds sport a dark, emerald green throat and a pair of bright yellow and white long tail feathers. These birds are native to the northern forests of Papua New Guinea as well as the surrounding islands such as at Raja Ampat’s Misool island and in Yapen.


Cendrawasih Merah, or the Red Bird of Paradise, (Paradisaea Rubra,) gets its name from its dominant color being a deep crimson red with wisps of white slashing through, and a bright green head. Males have dark patches around the eyes, twirling black cork-screw tail wires, and ornamental red plumes atop their head that may take as long as 6 years to attain. The female is similar, but with a brown face and no plumes. The Red Bird of Paradise is found in lowland forests and is endemic to the islands of Waigeo and Batanta in Raja Ampat, West Papua. It shares its habitat with another bird of paradise, the Wilson’s Bird of Paradise. The Red Bird of Paradise is depicted on the front side of the 1992 edition Rupiah 20,000  Indonesian banknote.


Lawes Parotia, (Parotia Lawesii,) has a similar shape to that of a male turtledove, but with a velvet black coat, silvery white forehead, blueish nape and golden green breast. The shape of the birds’ feathers reflects light in such a way that two different colors are visible: bright blue-green and orange-yellow. When the bird moves, the colors switch sharply between these two colors, and systematic moves involving these are made to attract females during courtship. 3 ornamental wires adorn the head of the male Lawe’sParotia, together with black flank feathers that spread in a skirt-like display. The iris of the birds may switch from blue to yellow according to its mood. The bird is endemic to south and southeastern Papua New Guinea, and is named after the New Guinea pioneer missionary, Reverend William George Lawes.


King of Saxony Bird of Paradise (Pteridophora Alberti,) is a relatively small Bird of Paradise, measuring only approximately 22 centimeters in length. Males are black and yellow with a black bill and green mouth. As with all birds of paradise, it needs something weird and unique. In the case of the King of Saxony, it is two ridiculously long enamel blue brows, measuring 40 centimeters in length that can be erected at will. These ornamental plumes are so disproportionate that when the first specimen was brought to Europe, it was thought to be a fake. Although males have long been hunted for their lengthy plumes, the King of Saxony is fairly common within its habitat and is the least endangered of all the Bird of Paradise species. The species thrives around the mountains of Papua New Guinea.


Wilson's bird of paradise, (Cicinnurus respublica,) is a small, yet elaborately colored bird. The male is red and black with a yellow mantle about its neck, a light green mouth, blue feet and two curving violet tendrils for a tail. Its head is naked, with bright blue skin and a double cross shape. The colors of the bird are so vivid, that it is visible clearly amidst the fields and even at night. The female is a brownish bird with a bare blue crown. The Wilson’s bird of paradise is endemic to Indonesia, and found on the islands of Waigeo and Batanta in Raja Ampat, off the coast of West Papua.

 there are my informations about cendrawasih, I hope my informations will make you interestest with Indonesian  ..

Selasa, 24 Februari 2015

RAJA AMPAT SURGA DUNIA YANG NYATA



 
Raungan mesin kapal kayu berhenti dan perahu mulai merapat. Tidak ada yang terdengar kecuali ombak kecil yang mendera sisi kapal dan perlahan-lahan melepaskannya. Burung-burung beterbangan dari ujung pohon kecil di salah satu pulau tak berpenghuni. Ya, Anda tiba di Raja Ampat! Surga terakhir kekayaan bawah laut paling lengkap di Bumi. Bersiaplah untuk sebuah petualangan yang tidak akan terlupakan. 

Raja Ampat atau 'Empat Raja' adalah nama yang diberikan untuk pulau-pulau indah tersebut. Sebuah nama yang berasal dari mitos lokal. Empat pulau utama yang dimaksud itu adalah Waigeo, Salawati, Batanta, Misool yang merupakan penghasil lukisan batu kuno.

 
 
Pecinta wisata bawah laut dari seluruh dunia datang ke Raja Ampat untuk menikmati pemandangan bawah laut terbaik yang mengagumkan. Mulailah tur Anda dari sini dengan menyelam di bawah lautnya yang paling indah. Jelajahilah dinding bawah laut yang vertikal dan rasakan ketegangan melihat kelayaan bahwah laut yang megah. Meski Anda berdebar-debar saat terombang-ambing arus laut namun itu pastinya akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan di Raja Ampat.

 Wilayah pulau-pulau di Raja Ampat sangatlah luas, mencakup 4,6 juta hektar tanah dan laut. Di sinilah rumah bagi 540 jenis karang, 1.511 spesies ikan, serta 700 jenis moluska. Kekayaan biota ini telah menjadikan Raja Ampat sebagai perpustakaan hidup dari koleksi terumbu karang dan biota laut paling beragam di dunia. Bahkan, menurut laporan The Nature Conservancy dan Conservation International, ada sekitar 75% spesies laut dunia tinggal di pulau yang menakjubkan ini.
Anda tiba di Raja Ampat maka kegembiraan sudah dapat dirasakan. Sontak terdengar seketika orang yang baru datang di sini memuji nama Tuhan-nya karena mata dan hatinya dipikat pemandangan alam yang luar biasa. Bila tidak Anda temukan respon itu maka diam terkesima adalah bukti seseorang telah ditawan setitik surga yang jatuh di lautan yang jernih sebening kristal dan ombak lembut menyapu pasirnya yang putih.

 “Di sini bagus!” sahut ramah seorang pemandu wisata lokal dari sebuah agen perjalanan wisata di Raja Ampat. Kata-kata awal itu menandakan bahwa pengunjung telah sampai di salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Jika tidak sedang memandu wisatawan, pemandu lokal ini adalah seorang nelayan biasa. Nelayan tersebut terbiasa dengan orang luar yang datang berkunjung, mereka sangat ramah terutama jika diberi buah pinang atau permen (patut Anda coba). Cara ini telah terkenal dimana dengan memberikan permen dianggap bentuk sopan santun dan mampu mencuatkan senyum sang nelayan.

 
Nelayan di Raja Ampat biasanya memakan camilan saat bercakap-cakap (para-para pinang). Mereka akan saling bertukar cerita lucu sambil mengunyah buah pinang. Dalam banyak hal termasuk kemiripan alam, budaya, dan sejarah, bahwa masyarakat nelayan di Raja Ampat memiliki kesamaan dengan orang Maluku.                             
 Pemandangan Raja Ampat seperti dalam mimpi tetapi ini bukanlah ilusi. Saat Anda mencemplungkan diri menyelam ke bawah laut maka perhatikan dengan detail hewan laut yang menyapa. Bisa jadi kuda laut kerdil mendekati jemari Anda seakan ingin menyambut berjabat tangan.

 
Mantaray dan wobbegong akan berenang bersama Anda. Ikan tuna, giant trevaliies, snapper, dan bahkan barracuda turut menyambut Anda di bawah laut. Itu belum cukup, bagaimana apabila ada teman baru yang ramah yaitu ikan dugong ingin berenang bersama Anda. Jangan lewatkan juga mengamati sibuknya ikan-ikan kecil menjaga wilayahnya hilir-mudik. Bila Anda beruntung mungkin dapat berenang bersama penyu laut.

 



Keindahan yang alami, seolah benar-benar tidak tersentuh telah menjadi daya tarik utama di sini. Tidak perlu ungkapan keindahan langit yang biru atau pulau yang menghijau subur, karena apa yang ada di atas daratan dan di bawah lautnya akan mengatakan kepada Anda “Selamat datang di Raja Ampat; inilah surga keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini.    


 

 

Sabtu, 21 Februari 2015

TOPENG MALANGAN


    
    Topeng Malangan merupakan seni pemahatan topeng yang asli bercirikan khas Malang. Salah satu seni karya tradisional ini masih tetap bertahan sampai saat sekarang. Berdasarkan beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang telah berusia ratusan tahun. Pada masa dahulu Topeng Malang ini diwujudkan dengan bentuk pertunjukan yaitu saat ada acara tertentu seperti pernikahan, selamatan, dan hiburan pejabat tinggi kala itu. Topeng Malang sedikit berbeda dengan jenis topeng yang ada di Indonesia, coraknya khas dari pahatan kayu yang lebih realis serta menggambarkan karakter wajah seseorang. Terdapat banyak ragam dari jenis Topeng Malang yang dibuat seperti karakter jahat, baik, gurauan, sedih, kecantikan, ketampanan, bahkan sampai karakter yang sifatnya tidak teratur. Sajian ini nantinya dipadukan dengan tatanan rias dan pakaian untuk memainkan sebuah pewayangan atau cerita tertentu menggunakan Topeng Malang. Saat ini, perkembangan Topeng Malang sudah dapat dinikmati dalam bentuk drama, ada yang menceritakan tentang sosial dan cerita humor.
    Satu-satunya padepokan yang sampai saat ini masih bertahan dalam melestarikan budaya asli Malangan adalah Padepokan Asmorobangun atau biasa juga dikenal Padepokan Panji Asmorobangun. Padepokan ini terletak di Jalan Prajurit Slamet di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Seni Topeng Malangan ini semula dipopulerkan oleh Mbah Serun kemudian diteruskan oleh Mbah Kiman. Hingga sekitar tahun 1930  putra Mbah Kiman, yaitu Mbah Karimun, memulai pembuatan Topeng Malangan dengan dibantu oleh putranya, Taslan. Sekitar tahun 1992 Bapak Taslan meninggal dunia, sehingga Mbah Karimun dibantu seorang cucunya, Handoyo, untuk pembuatan Topeng Malang. Mbah Karimun sendiri wafat pada tahun 2010 yang lalu sehingga padepokan dikelola oleh Handoyo.
    Untuk melestarikan warisan Karimun, Handoyo setiap hari membuat topeng, baik untuk keperluan aksesori tari maupun sebagai souvenir. Hasil penjualannya digunakan untuk membiayai kegiatan padepokan. Pemerintah daerah pun menjadikan Topeng Malang sebagai salah satu hasil seni yang perlu dilestarikan dan diturunkan pada kalangan anak muda. Pada tahun 2007 Mbah Karimun dinobatkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik sebagai satu dari 27 maestro seni tradisi. Bahkan Mbah Karimun pernah memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) atas keteguhannya melestarikan Topeng Malang.
   
     Karakteristik Topeng Malangan berbeda dengan topeng dari daerah lain, seperti Solo, Cirebon, dan Bondowoso. Perbedaannya terletak pada ragam warna yang lebih banyak dibanding topeng daerah lain. Selain itu, ornamen atau ukirannya juga lebih detail. Hal yang paling menonjol, untuk karakter para ksatria ada cula, memakainya menggunakan tali. Topeng Malangan berkembang sejak masa kerajaan Hindu-Budha, dengan ciri khas cula, sinom, dan urna. Urna melambangkan karakter manusia, sinom sebagai semesta, dan cula melambangkan penguasa sebagai pengendali alam dan manusia. Terdapat 76 karakter tokoh yang dibagi menjadi empat kelompok besar. Pengelompokan pertama adalah sosok Panji dengan ciri-ciri berbentuk pemuda tampan, berbudi pekerti luhur dan gagah berani. Kelompok kedua merupakan wujud tokoh antagonis yang sesuai dengan corak ukiran pada topeng, yakni bermata bulat besar dan mempunyai taring. Kelompok ketiga adalah kelompok tokoh abdi atau pembantu dengan ornamen lucu pada ukirannya. Kelompok keempat adalah binatang sebagai pelengkap cerita.
   Selain model atau wujud pertokohan, ciri Topeng Malangan dikuatkan dari pewarnaan dengan kombinasi lima warna dasar yakni, merah melambangkan keberanian, putih melambangkan kesucian, hitam melambangkan kebijaksanaan, dan kuning melambangkan kesenangan, serta hijau melambangkan kedamaian. Bukan hanya menjadi karya seni ukir berbahan kayu sengon, Topeng Malangan juga dipertontonkan menjadi kesenian tari di Padepokan Asmorobangun. Dari awal pendiriannya hingga sekarang, pertunjukan sendratari Topeng Malangan selalu memainkan kisah Panji yang menceritakan percintaan Raden Panji Asmorobangun (Inu Kertapati) dengan Putri Sekartaji (Candra Kirana) disertai Topeng Bapang dan Klono. Cerita panji ini menjadi inspirasi tari topeng yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. Setiap Topeng Malang mempunyai karakter berbeda, demikian juga gerakan tari yang berbeda setiap karakternya. Biasanya, saat pertunjukan, pemeran hanya berganti topeng untuk memerankan tokoh-tokoh yang dibawakan. Namun dandanan pokok, seperti kain, celana, dan sampur, tidak berubah. Penari hanya berganti topeng dan irah-irahan (hiasan kepala).
    Beberapa sumber menyebutkan ada beberapa karakter unik dari Topeng Malang, seperti karakter Demang yang menggambarkan sosok pejabat kala itu, Dewi Kili Suci dan Dewi Sekartaji yang menggambarkan kecantikan, Bilung yang menggambarkan karakter tidak teratur dan sebagainya. Uniknya lagi semua hasil dari Topeng Malang dibuat berdasarkan alur tradisional, dari memilih bahan kayu, mengukir, pembentukan karakter, sampai proses pengecatan semua dilakukan secara manual. Saat ini, kesenian Topeng Malang kerap dimainkan ditingkat pejabat tinggi daerah atau bahkan pertunjukan khusus yang memang disengaja untuk menarik wisatawan datang ke Malang.
    Di padepokan ini diadakan latihan karawitan yang digelar dua kali sepekan. Setiap hari Minggu ada latihan gratis bagi anak-anak di desa untuk menari Topeng Malangan. Seni Topeng Malangan saat ini telah cukup dikenal sampai mancanegara. Bahkan pada saat tertentu, ada kunjungan dari pelajar dan mahasiswa dari luar negeri, seperti Jepang, Australia, Turki, dan Belanda. Topeng Malang sering dipesan dari berbagai daerah dengan harga antara Rp 100-500 ribu tergantung jenis kayu dan ukirannya. Bahkan, ada yang dihargai Rp 1 juta. Biasanya, pembuatan Topeng Malang menggunakan kayu sengon untuk topeng seharga Rp 100-500 ribu. Sedangkan kayu yang keras, seperti mentaos, kembang, nangka, bisa lebih mahal. Pemesan Topeng Malang ini biasanya dari berbagai kalangan, seperti dari galeri, mall, sekolah tari, wisatawan mancanegara dan lain-lain.